Puas?
“Rek, aku lama-lama gak betah tinggal
disini.” Kata Ngadimin
“Lha
emangnya kenapa kok gak krasan tho
Min? Uangmu sudah habis? Atau kangen ibumu ning
kampung?” Kata Pincuk
“Gak Ncuk, aku cuman ngilu dan sedih
melihat kondisiku ditempat yang baru ini. Tambah kurus, mbladus, seperti orang yang gak keurus. Rasa-rasanya pengen segera
lari kembali ke kampung halaman.”
“Wis Min, jangan dipikir dalam-dalam.
Nanti kamu malah jadi sakit dan kalau orang tuamu sampai tahu, kasihan. Kita
harus tetap disini, sampai semua proses pendidikan ini selesai. Lha sekarang sudah makan belum?”
“Sudah Ncuk.. Aku terkadang bingung hidup
disini yang katanya orang-orang menjanjikan hal-hal yang wah. Namun apa yang
sekarang aku alami? Masih jauh dari harapanku.”
“Sedulurku
Ngadimin, tak kandani. Kita itu di
Jakarta kurang tepat jika mengatakan untuk mencari uang. Kita disini hanya
belajar, bukan untuk mendapatkan ijazah. Sekarang kita jalani dulu proses ini,
dan syukuri setiap langkahnya.”
“Omonganmu enak dan adem banget Ncuk.
Tapi apa itu benar? Aku setiap hari makarya
tanpa mengenal lelah, ngebut, hanya ingin mendapatkan gelar akademis dan pulang membawa sebongkah berlian. Tapi, apa
aku sudah hidup berkecukupan? Boro-boro beli motor sport, motor bebek aja belum punya.”
“Min, kamu ke Jakarta kan juga atas
keinginan dan do’amu sendiri semenjak masih duduk di SMA. Sekarang aku mau
tanya, siapa yang memberikan rezeki? Siapa yang memberikan kebahagiaan? Siapa
yang memberikan gelar sebenarnya? Siapa yang mengangkat kehidupan yang
sebenarnya? Jawabannya cuman satu. Allah SWT.”
Kenapa
kita selalu nggrangsang? Merasa
selalu kurang dengan yang telah diberikan oleh Tuhan. Minta satu sudah diberi,
namun minta tambahan satu lagi. Setelah dikasih satu lagi, minta tambah satu
lagi tanpa bersikap “Terima kasih Tuhanku”. Ibarat ada seorang anak yang
meminta sesuatu kepada ayahnya secara terus menerus, tapi lupa menghormati dan
menyayangi ayahnya serta malah sibuk sendiri dengan apa yang telah diberikan.
Maka sang ayah pun apabila anaknya meminta lagi, dia akan berpikir ulang,
apakah akan memberi atau tidak. Kurang tepat, jika kita mendekat disaat akan
membutuhkannya saja yang tidak lebih hanyalah seperti penjilat.
“Didalam setiap do’a
selalu meminta, namun kita lupa untuk berterima kasih dan berbagi kepada yang
lain. Semuanya tidak lebih hanyalah titipan. Sehingga jika suatu saat akan
diminta kembali oleh pemiliknya, ikhlaskan. Namun, ikhlas atau tidak ikhlas,
semua pasti akan kembali” (Aa)
Ali Arifin
Jakarta, 05 Desember 2013