Takbir & Kentongan di Lorong Desa
Sore tadi,
Anak anak kecil tak siuman
Tak menggemakan suara penuh keceriaan
Tak memukul bedug dan kentongan
Alat penanda yang telah tertelan
Termakan rayap pemikiran tak beralasan
Tak ada yang memukul untuk dugderan
Dan tak ada lagi yang ingin melestarikan
Dia sekadar sebuah pajangan
Tak dipukul tak digetarkan
Pemanis serambi estetika tampilan
Yang mulai disimpan di lorong bangunan
Tadi malam,
Terdengar suara lara sendu
Menyeru kebesaran Yang Maha Tahu
Menggetarkan jiwa yang penuh rindu
Walau tak sekhusuk dan seindah dulu
Tak seramai,senikmat, masa lalu
Dimana antar lorong saling menyeru
Sahut menyahut menjadi satu
Bak paduan suara kelas tuju
Malam semakin larut,
Hanya satu dua corong yang menyapa
Itu pun hanya sekadar alakadarnya
Memulai dan mengakhiri sesukanya
Hanya sebagai penawar telinga
Agar tak terasa sepi tanpa nyawa
Pagi ini,
Khutbah tak sesuci biasanya
Hanya sebatas kata tanpa rasa
Membangun aura tak seperti dulu kala
Sepi sunyi mulai meraja
Hanya riuh menitan saja
Membagi daging domba
Tak membekas didalam jiwa
Ini bahaya jika tak jaga
Dibangun semangat penggelora
Untuk kejayaan bangsa dan agama
Merindu takbir dan kentongan di lorong desa
Maaf & Terima kasih
Ali Arifin
Demak,1 September 2017
Demak,1 September 2017