Topo Mendem
“Ncuk,..
kok nggak pernah kelihatan dimana?” Tanya salah satu Bolokurowo, ketika dalam acara
kenegaraan itu.
“Aku
sedang berkelana.” Jawab Pincuk dengan nada tegas.
“Jadi
takut aku Ncuk sama kamu. Nggak seperti biasanya. Kamu jadi orang serius. Atau
kamu diam-diam nge-fans sama Bang
Haji yang katanya mau calon presiden itu, jadi kamu pengen berkelana kayak
lagunya yang seperti ini liriknya : dalam
aku berkelana tiada… lupa aku liriknya. Hmmm….. Gimana kalau habis acara
ini kita bersenang-senang? Nge-fly, atau
mungkin nanti kita ajak temen-temen main PS dari pada mereka sibuk mengurus
uang-uang dan uang”
“Gahhh..
ora gelem. Males.”
“Maksudnya
apa? Kon iku aneh”
“Aku
nggak mau” Jawab singkat pincuk
“Emangnya
kamu sibuk? Bukannya kamu itu kalau sibuk juga dianggap nggak sibuk. Ada acara
apa?”
“Topo mendem” jawab
singkat pincuk dan langsung berdiri, dan berjalan keluar meninggalkan
Bolokurowo.
“Oouu… lha jancuk kui
boca….!!!!”
“Hahaha….”
Pincuk tertawa riang sambil membuka pintu ruangan karena dia lebih suka dicaci
maki dan dipisuhi dari pada
dihormati.
Setidaknya
itulah sifat dari Pincuk disela-sela sifatnya yang rame dan suka berbicara.
Mungkin ini yang disebut dengan efek samping dari sifat dirinya yang ceplas-ceplos ketika berkumpul bersama
Bolokurowo. Yang pastinya, ketika Pincuk menunjukkan tanda-tanda efek samping
kayak gini pasti sedang ada sesuatu yang sedang dia hadapi atau pikirkan.
Memang kelihatannya dia adalah salah satu manusia yang tidak pernah berpikir,
namun dibalik semuanya itu terkadang dia dapat berpikir. Allah dengan segala
kekuasaan-Nya dapat menciptakan manusia-manusia yang unik dan limited edition untuk tipe-tipe
tertentu.
Lanjut
ke cerita, ternyata Pincuk meninggalkan acara kenegaraan tadi hanya ingin minum
kopi sambil ngelamun didalam kamar.
Tak lama berselang setelah dia membuat kopi terdengar “Herr.. her…” suara motor
yang di gas lebih besar didepan kamar kecil alias kos. Seperti biasa, Pincuk
sudah hafal suara itu, baginya tak asing lagi ketika ada laki-laki berteriak
didepan dan memanggil-manggil namanya dengan suara serak-serak tigo nglatak. Entah ada angin apa Pincuk
keluar ketika dipanggil.
“Eehh..
seniman gagal….!” Sergap laki-laki itu dan Pincuk hanya mengeluarkan sedikit senyuman.
“Jadi
orang kok, di kamar mulu. Tidur, bangun, makan, main game, telpon pacar. Hidup
itu harus bersosialisasi. Setidaknya kamu bisa lebih maju dan melihat masa
depan.” Lanjutnya.
“Matur nuwun Bang.”
Didalam
hidup ini seseorang memiliki titik-titik persimpangan, pemberhentian, tikungan,
tingkatan yang berbeda-beda dan tidak semua manusia bisa mendapatkan tahapan-tahapan
melalui titik-titik perjalanan hidup tertentu. Ada kalanya manusia berada pada
titik haram, halal dan masih banyak titik-titik tertentu yang dipersiapkan
Allah untuk manusia yang diperkenankan-Nya menapakkan kaki pada titik-titik
tersebut. Pada titik haram pun pada dasarnya manusia yang berada pada titik itu
telah diajarkan untuk mengenal halal dan pada titik halal manusia diajarkan
untuk mengenal titik haram. Lebih baik sering dianggap sebagai manusia haram,
manusia gagal, makhluk aneh bin nyleneh,
bajingan, garong, preman, orang gila di hadapan manusia tetapi secara
diam-diam disetiap helaian lembut nafas dan untaian nadi bergerak mendetak
mengalir indah keseluruh ruh dan pakain lusuh lahir ini yang secara konsisten diam-diam
mendekatkan hidup yang hakiki pada titik keabadian pelukan Allah SWT.
Mungkin
titik yang sedang Pincuk alami yang dia
sebut sebagai “Topo mendem” tadi, dimana dia harus bersunyi menarik diri
sejenak dari kehidupan biasanya yang ia lakukan. Dan mungkin Pincuk, sedang di
perjalankan Allah untuk belajar pada titik tertentu yang mungkin bagi sebagian
orang itu tidak nyaman dengan keberadaannya karena belum sama-sama memahami
titik-titik yang masing-masing sedang dipelajari.
“Hidup adalah belajar
untuk kematian, dan kematian menghantarkan kepada sebuah kehidupan yang lebih
hakiki” (Aa)
by : Ali Arifin