Tuhan, Apakah Ini Benar Sekolahku?
Tulisan ini saya buka
dengan bacaan Basmalallah dan teriring senyum dari bibir yang
rasa-rasanya mengering lengkap dengan rasa lengket di tenggorokan dan sedikit
sariawan, karena sedang berjuang untuk mempersembahkan yang terbaik untuk
pribadi-pribadi yang sangat saya cintai. Allah telah mengizinkan saya untuk
terlahir didunia ini dengan berbagai kenikmatan yang tidak dapat saya
sebutkan satu persatu. Mulai dari orang tua dan keluarga saya, yang sangat
mencintai dan menyayangi serta mendukung langkah-langkah yang saya ambil.
Bahkan saya yakin, doa dari kedua orang tua saya tiada putus-putus mengalir
begitu jernih dari hati yang penuh ketulusan untuk anaknya. Dan do’a itu selalu
saya rasakan disetiap detik, dan bahkan kalau ada perhitungan yang jauh lebih
cepat, tetap saja saya merasakan do’anya. Bapak dan Ibu selalu berkata setiap
kali saya ingin memperjuangkan sesuatu, “Opo sing mbok karepke, Bapak
karo Ibuk ndukung lan muga-muga Allah nyembadani”. Apa-apa yang saya
cita-citakan selalu tidak terlepas dari restu dan dukungan kedua orang tua, dan
yang pastinya Allah. Tanpa itu semua, saya tidak akan bisa berbuat apapun,
bahkan untuk bisa bernafas pun sulit, jika Allah tidak mengizinkan saya
menghirup udara-Nya. Apa lagi yang lainnya?
Perjalanan hidup ini hendaknya
menghindari kata “selesai”. Kita hidup tidak hanya di dunia saja, melainkan di
kuburan pun kita sejatinya masih hidup, namun hanya berpindah tempat. Kehidupan
ini masih sangatlah “panjang”, dan dunia adalah salah satu metode investasi
untuk kehidupan-kehidupan ditempat berikutnya. Untuk menjalani kehidupan ini,
tentunya kita tidak bisa hidup sendiri. Keluarga, guru dan sahabat serta kaum
miskin sangatlah penting, dimana saya terjemahkan sebagai pembakar semangat
untuk selalu berkarya dan bertindak lebih arif. Walaupun masih jauh dari kata
arif yang sangat begitu dalam maknanya, namun inilah pelecut saya untuk tetap
melangkah walau terkadang merasa lelah.
Saya pernah menghadiri
acara diskusi disebuah taman budaya di negeri ini. Kala itu ada anak-anak jalanan
yang membawakan sebuah lagu sebagai hiburan diskusi. Lagu itu, kurang lebih ada
liriknya yang seperti ini “semua orang itu guru, alam raya sekolahku”.
Sungguh sebuah kalimat yang memiliki makna yang sangat dalam, dimana kita harus
beranggapan bahwa semua orang itu guru, sehingga kita dapat belajar dari
siapapun tanpa mengenal apakah dia pengamen, anak jalanan, pemulung, tukang
sapu. Dan kita hendaknya sadar bahwa dunia ini, alam raya ini, adalah sekolah
kita yang sebenarnya. Entah kita sudah menjadi professor, presiden, sekjen PBB,
atau apapun, kita tetap masih sekolah. Jangan pernah beranggapan bahwa ketika
kita keluar dari universitas, berarti kita sudah selesai. Perjalanan kita masih
sangatlah panjang, sekolah alam raya ini akan dinyatakan ditutup apabila tidak
ada yang sekolah lagi, dalam artian semuanya telah hancur dan tidak ada satu
pun diantara kita yang tersisa. Dan kita akan lulus, setelah Allah mengizinkan
dengan cinta-Nya mencabut nyawa kita.
GuruMulia saya pernah
berkata kepada istrinya sembari memperkenalkan saya ketika ingin berangkat
ibadah Umroh, “Ini namanya Ali, dia mahasiswa abadi”. Saya pun
hanya tersenyum hangat dihadapan beliau dan mencoba berpikir apa maksud dari
istilah “mahasiswa abadi”. Beberapa detik kemudian beliau
melanjutkan perkataannya yang menjelaskan bahwa sebenarnya kita hidup ini tidak
mengenal kata lulus dan selesai untuk belajar. Sungguh teganya kebiasaan
orang-orang kita menerjemahkan istilah “mahasiswa abadi” dengan
pemikiran dan pemaknaan yang sangat dangkal dikalangan para mahasiswa di
kampus, dimana istilah itu dapakai untuk mahasiswa yang lulusnya lama. Ini
adalah istilah dan kata yang sangat mulia, dan kita sebisa mungkin jangan
menodai makna yang begitu indah.
Mari kita berkarya,
tunjukkan pada dunia bahwa apapun yang kita lakukan, semuanya tidak lebih dan
tidak kurang, hanya karena cinta. Cinta yang tidak sebatas antara laki-laki
dengan perempuan. Cinta yang bukan sembarang cinta. Ini adalah cinta kita
kepada Allah dan pribadi-pribadi yang dimuliakan-Nya.
Tuhan, izinkanlah saya
berdo’a :
“Ya Allah, tuntunlah saya
dan pribadi-pribadi yang saya cintai, wabilkhusus : Bapak dan
Ibuk serta keluarga, GuruMulia saya Bapak JS, Bapak EAN, serta seluruh pribadi
yang saya cintai, agar selalu Engkau tuntun dan berikan petunjuk untuk suci
didalam hati, pikiran, perkataan dan perbuatan dan terangilah kami, jikala kami
sedang merasa gelap”. (Aa)
Ali Arifin
Jagakarsa, Jakarta
Selatan, 10 Desember 2013