Pincuk Pergi ke Mekah
Siang itu, Pincuk diizinkan oleh
Allah untuk menapakkan kaki di rumah yang sangat suci dan mulia. Kaki yang
melangkah penuh semangat untuk beribadah menepuk-nepuk punggung bumi yang
nampak tersenyum. Dia tidak sendirian, dia ditemani oleh salah satu sahabatnya
yang dilahirkan di Yogyakarta. Raut muka yang penuh kebahagiaan dan kerinduan
yang amat sangat mendalam terpancar dari keduanya. Mungkin inilah saat yang ia
nanti-nanti didalam hidupnya.
“Mas, Alhamdulillah banget
cita-citaku kesampaian” Kata Pincuk
“Iya Cuk, Alhamdulillah. Semoga
kita tetap dituntun.” Sahut Paijo
“Aamiin. Baitullah, sungguh sangat
mulia. Aku merasa semua yang ku lakukan didalam hidup ini terasa hambar ketika
tanpa cinta.”
“Cuk, semua itu harus dikembalikan
kepada-Nya, karena sesungguhnya apa yang ada digenggamanmu itu berasal
dari-Nya.”
“Iya Jo, aku ingin berikrar di
rumah yang mulia ini. Bahwa aku tidak akan pernah bercanda lagi didalam
hidupku, dan aku tidak ingin menyakiti satupun manusia dan makhluk disekitarku.
Semoga Allah memberikan keberkahan dan keindahan kepada setiap makhluk yang
pernah tersakiti oleh perbuatan nakalku.”
“Tapi, bukan berarti kamu akan
menjadi manusia pendiam tanpa humor seperti yang ku kenal sebelumnya?”
“Aku akan tetap menghibur kepada
sahabat-sahabatku dengan humor yang telah Allah titipkan, namun aku tidak
berani berhumor dalam memanaj hidup ini. Aku rindu kedamaian.”
“Syukurlah, aku masih bisa
merasakan dagelan dan banyolanmu.”
Mereka pun berjalan diarea
pelataran Masjidil Haram dan ingin memasuki gerbang yang penuh dengan cahaya
kedamaian. Hati yang damai dengan semilir angin kesucian, mata mereka menatap
seorang lelaki yang menjaga pintu itu.
“Assalamualaikum ya akhi..!” seru
lelaki penjaga pintu
“Waalaikumsalam” jawab Pincuk
“*****…” kata lelaki penjaga pintu
Mereka berdua bingung karena tidak
mengerti apa yang dimaksud oleh lelaki itu. Dia menggunakan bahasa Arab,
sedangkan Pincuk dan Paiojo hanyalah seorang anak muda yang bisa berbicara
dengan bahasa Jawa dan Indonesia, walaupun kurang bagus. Akhirnya mereka pun
merogoh-rogoh kantungnya, dan mendapati uang Rp 500,- cap ketek (monyet) dan beberapa uang Rp 100,- cap kapal yang agak
sedikit lusuh itu, kemudian ia tata layaknya kernet bus menghitung uang. Entah
karena apa, ketika lelaki penjaga pintu itu melihat uang tersebut, keduanya
tidak dizinkan memasuki Rumah Suci itu.
Kata yang Pincuk dengar sekilas
dari lelaki itu hanya, “Laa… laa… ***….*** Indonesia”
Akhirnya mereka berdua beribadah
diluar area Rumah Suci itu. Dan bibir Pincuk tiba-tiba menggumam tak jelas dan
berlagak layaknya seorang penyair yang membacakan karyanya.
“Langkah ini masih tanpa arah
Berjalan menuju hal yang tak tentu, aku lelah …
Tertatih penuh debu
Langkah tak tentu
Berjalan menuju hal yang tak tentu, aku lelah …
Tertatih penuh debu
Langkah tak tentu
Ku teguk minuman
Namun tak membuatku simuan
Ku makan makanan
Namun aku rasa kelaparan
Ku cium wewangian
Namun tak kurasa keharuman
Namun tak membuatku simuan
Ku makan makanan
Namun aku rasa kelaparan
Ku cium wewangian
Namun tak kurasa keharuman
Mati rasa dalam kehidupan
Membuatku dalam kegelapan
Kekayaan tak membuatku berkecukupan
Hanya satu yang menjawab kegelapan
Kuburan yang telah dihadapan
Menuju timbangan kehidupan
Untuk diadili dan ditempatkan oleh Tuhan”
Membuatku dalam kegelapan
Kekayaan tak membuatku berkecukupan
Hanya satu yang menjawab kegelapan
Kuburan yang telah dihadapan
Menuju timbangan kehidupan
Untuk diadili dan ditempatkan oleh Tuhan”
Dan Pincuk pun terbangun dari tidur
pulasnya setelah melewati hari-hari yang begitu melelahkan.
Uang Rp 500,- cap monyet adalah
suatu hal yang sangat suci dan mulia nilainya. Uang tidaklah bersalah, uang tidaklah
berdosa. Makanan dan minuman amat sangat luar biasa nilainya. Bahkan wewangian
sangatlah tinggi drajadnya. Apalagi kekayaan dan harta yang kita miliki, sangat
mulia dan indah adanya. Namun, kenapa uang Rp 500 cap monyet ditolak? Uang disebut-sebut sebagai ladang dosa?
Apalagi kekayaan, harta dan tahta? Semuanya itu terletak bagaimana manusia
tersebut mencarinya, menciptakannya, mewujudkannya, meraciknya, merumuskannya,menggunakannya,
mengkonsumsinya, menikmatinya, dan mensyukurinya untuk berbagi sesuai dengan
nilai-nilai ketetapan mulia yang tidak merugikan semua makhluk. Kita boleh
kaya. Kita boleh membawa uang Rp 500 monyet ke Rumah Suci. Kita diizinkan untuk
memegangnya, namun kita harus ingat esensi puasa didalam menjaga dan
mengendalikan. “Jangan terbiasa
meluapkan! Jangan terbiasa melampiaskan! Jangan terbiasa menumpahkan semuanya!
Berpuasalah! Berpuasalah! Walaupun itu yang diperbolehkan, apalagi yang
dilarang. Namun kita harus ingat tatanannya.” (Aa)
Kolom Pincuk - Ali Arifin